









beberapa desain, ya... namanya juga belajar jadi nunggu kritikan nih
Geblek, nafsu gak puguh! Geram,
Seandainya aku jadi superman,
Ceritanya begini, pada saat naik motor secara gak sengaja saya liat ada dua orang polisi pakaian coklat pake motor lagi di pinggir jalan sambil nunjuk-nunjuk entah kesiapa, motor saya kian mendekat, pas motorku ada dekat dengan mereka ( polisi itu ), ada tukang parkir pakaian orange sambil terggopoh-gopoh mendekatinya lalu sambil membungkuk layaknya seorang abdi dalem keraton memberikan sesuatu lewat genggaman tangannya sambil sembunyi-sembunyi, polisi menyambutnya, persis seperti transaksi barang terlarang yang ada di film-film. Motorku melewati mereka, lalu saya penasaran, saya berhenti dulu nunggu mereka lewat, mereka pun lewat, saya liat polisi yang dibonceng buru-buru memasukan sesuatu yang ada di genggaman tangannya ke saku celana rekannya, mereka pun berlalu dengan kecepatan yang bertambah cepat.
Kejadian seperti itu sering saya liat, ada yang berhenti pake mobil patroli, lalu tak lama kemudian ada tukang parkir yang mendekat dan lewat jendela mobil tukang parkir itu memberikan sesuatu, sambil ngobrol sok akrab, basa-basi!
Memang itu cerita basi, karena hal seperti itu bukan rahasia lagi, Cuma jadi tambah geram aja liatnya, sepertinya citra polisi gak akan membaik, karena kalo dijalanan praktek-praktek seperti itu banyak gak bisa dihitung, sepertinya oknum bukan lagi kaum minoritas dalam lembaganya, andaikata para petinggi polisi ada waktu untuk menyamar dan jalan-jalan liat tingkah laku anak buahnya, pasti banyak deh yang kena sangsi.
Seandainya aku jadi superman, akan saya tindak dan saya labrak mereka didepan umum biar nyaho!
Polisi, polisi, ( eh oknum-oknum ) ...kenapa sih kamu?
TOLONG DEH BUAT PETINGGI DI KEPOLISIAN (saya yakin mereka sih menjunjung tinggi semangat kepolisian yang mengayomi dan melayani rakyat) sering sering sidak ke bawahannya. Semoga kepolisian kita tambah lebih baik.
Bukannya tidak setuju, cuman saya jadi mikir, kira-kira banyak manfaatnya gak sih? Yang saya tau untuk menyelenggarakan acara yang hanya semalam itu banyak sekali waktu, tenaga dan dana yang dikeluarkan, dan itu hampir 90% terbuang sia-sia, hanya bikin serak suara remaja-remaja ABG, bikin terganggu istirahat warga lain, malah terkadang terjadi keributan akibat mabok MIRAS! Aneh!!!
Saya jadi mikir juga, kan tadinya acara itu untuk merayakan hari kemerdekaan, mensyukuri kemerdekaan yang telah para pendahulu kita raih dengan perjuangan berat yang menuntut darah hingga nyawa mereka, apakah tidak sebaiknya kita lakukan sujud syukur dan mendoakan beliau-beliau yang gugur supaya mendapat balasan dari Tuhan YME?
Aneh, ...aneh, sekali lagi aneh!
Memang tidak semuanya merayakannya seperti itu, ada (mungkin banyak juga) yang merayakannya lebih masuk akal buat saya, mereka merayakan syukuran, doa bersama, membantu yang kesusahan, mengenang kembali jasa-jasa para pahlawan supaya generasi muda, sebagai generasi penerus perjuangan tahu dan dapat menyelami betapa beratnya merebut kemerdekaan jaman dulu itu. Tapi sayang yang merayakannya dengan hura-hura lebih banyak,
Aahh, pusing juga mikirnya, untuk merubah kebiasaan itu.
Dirgahayu INDONESIA! MERDEKA!
3. pada file A, buat layer baru ( Shift+Ctrl+N ), yang rencananya akan saya gunakan untuk mengisi bagian seleksi dengan warna foreground yang selanjutnya akan saya gunakan sebagai cetakan untuk memotong bagian yang dimaksud.


8. sampai disini kita sudah melakukan pemotongan gambar dan menggabungkan dengan gambar lain. Selanjutnya kita dapat tambahkan teks atau efek yang kita anggap perlu